Ketika
sebuah nilai kehidupan telah kita temui, segalanya bisa jadi telah terlambat.
Ada
seorang wanita yang sangat sentimental dan benar-benar sensitif serta
berperasaan halus, dia merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah dia dapatkan. Suami yang
jauh berbeda dari harapannya. Rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya
dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan mereka telah
mementahkan semua rasa akan cinta yang ideal.
Suatu
hari, wanita tersebut berani diri untuk mengatakan keputusannya kepada sang
suami, bahwa dia menginginkan perceraian.
“mengapa”
?? tanya suaminya dengan terkejut.
“saya
lelah,, kamu tidak pernah memberikan cinta yang saya inginkan” jawab wanita
itu.
Suaminya
hanya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya tampak
seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan wanita itu
semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan
perasaannya, sang istri tersebut berpikir apalagi yang dia harapkan darinya.
Dan
akhirnya, suami itu bertanya pada istrinya “apa yang dapat saya lakukan untuk
merubah pikiran kamu ??”
Sang
istri menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan. “Saya punya
pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya
akan merubah pikiran saya. Seandainya, saya menyukai bunga mawar dan melati
yang indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua tahu, jika kamu memanjat
gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya ??”
Suaminya
termenung dan akhirnya berkata, “saya akan memberikan jawabannya besok”.
Perasaan
sang istri langsung gundah mendengar respon sang suami.
Keesokan
paginya, sang suami tidak ada di rumah, hanya selembar kertas kertas
oret-oretan tangannya yang tertinggal di meja kamar di bawah sebuah gelas yang
berisi susu hangat yang bertuliskan.
“sayang, saya tidak akan mengambil bunga
itu untukmu, tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya”.
Kalimat
pertama ini sangat menghancurkan perasaan sang istri, kembali dia melanjutkan
untuk membacanya.
Kamu selalu pegal-pegal pada waktu temen
baik kamu datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk
memijat badan kamu yang pegal.
Kamu senang diam di dalam rumah, dan
saya selalu khawatir kamu akan menjadi aneh.
Saya harus membelikan sesuatu yang dapat
menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk mnceritakan hal-hal
yang lucu yang saya alami.
Saya selalu merawatmu jika kamu sakit
dan membawamu ke rumah sakit. Kamu selalu lupa akan menaruh sesuatu dan aku
senantiasa mengingatkannya.
Di saat kau mengeluh, akulah yang setia
mendengarkan dan mencoba menghiburmu.
Kamu selalu terlalu dekat menonton
televisi, kamu terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan
mata kamu.
Saya harus menjaga mata saya agar ketika
tua nanti, saya masih dapat menolong menggunting kuku kamu dan mencabuti uban
kamu, tangan saya akan memegang kamu, membimbing kamu menelusuri pantai,
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga
yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.
Tetapi sayang, saya tidak akan mengambil
bunga mawar dan melati yang indah di tebing gunung itu hanya untuk mati.
Sayang, saya tahu, ada bayak orang yang
mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu sayang, jika semua
telah diberikan oleh tangan saya,kaki saya,dan mata saya tidak cukup buat kamu,
saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki dan mata lain yang
dapat membahagiakan kamu.
Air mata
sang istri jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintahnya kabur, tetapi dia
tetap berusaha untuk terus membacanya.....
Dan sekarang, sayang .. kamu telah
selesai membaca jawaban dari saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini..
Sayang,, tolong bukakan pintu rumah kita
dan berlarilah ke tempat kesukaan kita. Saya sekarang sedang berdiri di sana
menunggu jawaban kamu.
Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya
ini..
Sayang,, biarkan saya kembali dan masuk
ke rumah untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit
hidup kamu lagi.
Percayailah,, bahagia saya adalah bila
kamu bahagia.
Sang
istri segera berlari membuka pintu dan segera menuju tempat kesukaan mereka,
disana terlihat sang suami berdiri dengan wajah penasaran sambil tangannya
memegang susu dan roti kesukaan istrinya.
Sang
istri sekarang mulai sadar, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari
suami mencintainya...
.
.
Pasangan
yang setiap hari mendampingi kita dengan setia, kadang tampak selalu kurang di
mata kita. Karena sifat bosan dan tidak puas kita sebagai manusia. Tidak pernah
menyadari begitu besar cinta mereka yang tak pernah nampak. Gajah di pelupuk
tidaklah nampak, namun debu di seberang lautan akan nampak. Demikian dengan
cinta, orang yang setiap saat ada di dekat kita. Seiring dengan kita merasakan
hampa, tiada dan datar-datar saja, sebenarnya mereka mempunyai sejuta
kebahagiaan yang tidak pernah kita dapatkan sebelumnya. Cinta bukan hanya
sekadar kata-kata, namun cinta sejati lebih kepada wujudnya, bentuknya, berupa
pelaksanaan kata-kata hati, membahagiakan pasangan dengan sederhana namin
berarti begitu istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar