Rabu, 11 Juni 2014

Surat Cinta yang tak Pernah Terkirim

Ketika sebuah nilai kehidupan telah kita temui, segalanya bisa jadi telah terlambat.



Ada seorang wanita yang sangat sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus, dia merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah dia dapatkan. Suami yang jauh berbeda dari harapannya. Rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan mereka telah mementahkan semua rasa akan cinta yang ideal.



Suatu hari, wanita tersebut berani diri untuk mengatakan keputusannya kepada sang suami, bahwa dia menginginkan perceraian.



“mengapa” ?? tanya suaminya dengan terkejut.



“saya lelah,, kamu tidak pernah memberikan cinta yang saya inginkan” jawab wanita itu.



Suaminya hanya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan wanita itu semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, sang istri tersebut berpikir apalagi yang dia harapkan darinya.



Dan akhirnya, suami itu bertanya pada istrinya “apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu ??”



Sang istri menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan. “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya, saya menyukai bunga mawar dan melati yang indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya ??”



Suaminya termenung dan akhirnya berkata, “saya akan memberikan jawabannya besok”.



Perasaan sang istri langsung gundah mendengar respon sang suami.

Keesokan paginya, sang suami tidak ada di rumah, hanya selembar kertas kertas oret-oretan tangannya yang tertinggal di meja kamar di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan.



“sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya”.



Kalimat pertama ini sangat menghancurkan perasaan sang istri, kembali dia melanjutkan untuk membacanya.



Kamu selalu pegal-pegal pada waktu temen baik kamu datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat badan kamu yang pegal.


Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya selalu khawatir kamu akan menjadi aneh.



Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk mnceritakan hal-hal yang lucu yang saya alami.



Saya selalu merawatmu jika kamu sakit dan membawamu ke rumah sakit. Kamu selalu lupa akan menaruh sesuatu dan aku senantiasa mengingatkannya.


Di saat kau mengeluh, akulah yang setia mendengarkan dan mencoba menghiburmu.



Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, kamu terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu.


Saya harus menjaga mata saya agar ketika tua nanti, saya masih dapat menolong menggunting kuku kamu dan mencabuti uban kamu, tangan saya akan memegang kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.


Tetapi sayang, saya tidak akan mengambil bunga mawar dan melati yang indah di tebing gunung itu hanya untuk mati.

Karena saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengair deras menangisi kematian saya.


Sayang, saya tahu, ada bayak orang yang mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu sayang, jika semua telah diberikan oleh tangan saya,kaki saya,dan mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.



Air mata sang istri jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintahnya kabur, tetapi dia tetap berusaha untuk terus membacanya.....



Dan sekarang, sayang .. kamu telah selesai membaca jawaban dari saya.


Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini..


Sayang,, tolong bukakan pintu rumah kita dan berlarilah ke tempat kesukaan kita. Saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu. 


Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini.. 


Sayang,, biarkan saya kembali dan masuk ke rumah untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu lagi.


Percayailah,, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.



Sang istri segera berlari membuka pintu dan segera menuju tempat kesukaan mereka, disana terlihat sang suami berdiri dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan istrinya.



Sang istri sekarang mulai sadar, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari suami mencintainya...

.
.
Pasangan yang setiap hari mendampingi kita dengan setia, kadang tampak selalu kurang di mata kita. Karena sifat bosan dan tidak puas kita sebagai manusia. Tidak pernah menyadari begitu besar cinta mereka yang tak pernah nampak. Gajah di pelupuk tidaklah nampak, namun debu di seberang lautan akan nampak. Demikian dengan cinta, orang yang setiap saat ada di dekat kita. Seiring dengan kita merasakan hampa, tiada dan datar-datar saja, sebenarnya mereka mempunyai sejuta kebahagiaan yang tidak pernah kita dapatkan sebelumnya. Cinta bukan hanya sekadar kata-kata, namun cinta sejati lebih kepada wujudnya, bentuknya, berupa pelaksanaan kata-kata hati, membahagiakan pasangan dengan sederhana namin berarti begitu istimewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar