Tidak aka ada orang yang tahu apa yang sedang kualami. Langit pun ikut mendung dibalik awannya. Tersisip jutaan liter air yang akan mendarat ke muka bumi. Burung burung segera kembali kerumahnya, takut akan serangan yang akan menimpa hidup mereka. Orang orang sibuk dengan kain di luaran rumah, dan segera berlari menuju tempat untuk berteduh. Berbeda dengan aku. Aku terdiam terpaku dibalik dinding kamar yang tipis ini. Aku sendiri, tanpa seorang pun yang menemaniku.
Tak ada yang tahu tangis ku, tak ada yang tahu perih dan pedih nya batin hatiku. Serta tubuh ku ikut merasakan sakitnya hidup didunia ini.
Aku tak tahu, apakah Tuhan melihatku, mendengar ku, ataupun meresponku. Yang kutahu ini sakit!!! Sakitnya tak tertahan kan. Aku hanya mampu menangis, menangisi kehidupan ku. Sakit ku, kumat seketika, ini bukan kusengaja, tetapi ini merupakan hal yang biasa kuhadapi. Tapi kali ini aku sendiri. Menangis terus
menangis. Penyakit yang sering ku alami. Nafas ku tersendat-sendat seakan terputus. Tubuh ku jatuh ke lantai. Bola mata ku bersembunyi dibalik selaput putih mataku. Aku tak bisa mengontrol nafasku, “Tuhan tolong aku, bantu aku sekarang”! Teriak ku didalam hati kepada Tuhan. Seseorang datang menghampiriku, membantu agar nafas ku dapat masuk dan keluar seperti manusia normal biasanya.
Tapi aku hanya bisa tersenyum memandangnya, tak seperti orang-orang biasanya, dia berbentuk nur atau cahaya tp serupa dengan manusia senter.
Dia berkata padaku .."Sudah irma jangan menangi s,teriaklah sekencang-kencangnya ..itu akan mengurasi rasa sedihmu". Aku coba melakukan ucapan orang itu, aku tak ingat lagi siapa dia, hanya suaranya yang mampu kudengar,.
Sebab bola mataku tak mampu melihat saat itu. Semakin ku mencoba, semakin terasa ringan. Tubuh ku mulai lemas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar